DI DEPAN KOMPUTER BESAR

August 7th, 2008 by gabriel-choir

Sang Maha duduk di Meja BesarNya. Di depan Komputer-Nya. Jari-jariNya bergerak-gerak siap untuk menekan tuts-tuts keyboard. Monitor Besar itu tidak memuat apa-apa.. kosong, karena memang belum ada apa-apa, bahakan CPUnya pun kosong. IA diam. Tidak ada kata-kata keluar, karena tidak ada kata-kata yang harus diucapkan. Terlebih.. tidak ada telinga yang mendengar.

Jari-jariNya bergerak-gerak.., siap untuk menekan tuts. IA mau mulai mengetik! IA mau mengisi Super Mega Harddisk Besarnya yang masih kosong. Seperti seorang penulis yang menyiapkan pena dan tintanya, seperti seorang pematung dengan pahat dan batunya. IA menggerak-gerakkan jari-jariNya siap untuk menekan tuts-tuts keyboard.

Clap. W.
Clap. A.
Clap-clap-clap. K-T-U.
WAKTU. Hmmm.. sebelumnya tidak ada yang namanya waktu itu. IA sendiri tidak dibatasi oleh waktu. Tapi IA mulai mengetiknya, IA menulis cerita yang dibatasi waktu. Awal-pertengahan-akhir. Hmmm… IA sudah membayangkan bahkan tahu Bab yang terakhir yang akan IA ketik.

Jari-jariNya bergerak-gerak hendak menekan tuts-tuts keyboard itu kembali. Kali ini IA menekannya dengan lembut, hati-hati, dan penuh kasih.
Clap. A.
Clap. D.
Clap. A.
Clap. M.

ADAM. Sebuah nama? IA melihat Adam yang pertama. Lalu Adam yang berikutnya. Beranak cucu. IA menempatkannya dalam waktu. Tiap Adam diberinya jangka waktu. Diberinya kasih. Tidak diberiNya kecelakaan. Semua baik. Oh, betapa IA mengasihi setiap Adam itu sampai-sampai IA berjanji kepada mereka bahkan sebelum mereka ada: “…kalian akan menyerupai AKU, kalian akan selalu tertawa, kalian tidak akan mati. Dan kalian akan mengetik dan menulis dan merancang.. seperti AKU.”.

Ya.. itu suatu keharusan. Adam-adam itu harus menulis. Karena setiap kehidupan adalah sebuah naskah yang harus ditulis. Ya.. mungkin Sang Maha yang mengetik kata pertama.. tapi setiap adam harus meneruskannya dan mengakhiri setiap naskahnya. Ya.. IA memberikan kebebasan kepada Adam-adam untuk menulis sendiri.

Aduh.. bukankah lebih aman jika Sang Maha saja yang menulis? Mungkin IA bisa menulis beberapa naskah dari setiap pilihan dan mengakhirinya. Tapi.. itu berarti tidak ada kasih.. karena kasih hanya akan berwujud kasih jika ia dipilih.
Akhirnya, dengan sedikit berat IA memberikan satu set komputer untuk setiap Adam. “Hati-hati kalau manulis..” bisikNya.

Jari-jariNya bergerak-gerak lagi. Ia siap mengetik kata ketiga. Kata yang berat untuk ditulis. Kesedihan dan kesakitan terlihat di mataNya.

Clap. Y.
Clap. E.

Clap. S.
…Clap. U.

Jari-jariNya seperti lemas. Air mataNya tak terbendung.
…Clap. S.

YESUS. Sebuah nama juga.
Kata apa ini? Kata WAKTU dipikirkan oleh sebuah otak terbesar di jagad raya, kata ADAM diijinkan untuk memilih kehidupannya sendiri. Tapi kata YESUS hanya kasih yang bisa menulisnya.

Kata YESUS similar dengan kata sebelumnya. Bahkan YESUS disebut Adam terakhir. YESUS, Iapun diberikan satu set komputer. IA diberi kebebasan untuk menulis sendiri naskahNya. Firman akan menjadi manusia. IA akan mempunyai kaki dan tangan. IA akan mengeluarkan air mata kesakitan dan kesedihan. IA akan menderita dan dicobai. IA diberi kebebasan untuk memilih.. meskipun IA diberi satu tujuan oleh Sang Maha. Satu saat IA akan berdiri di antara hidup dan mati.

Sang Maha terus menulis kisah YESUS. Kisahnya sendiri.
Ketika IA sampai pada Bab penderitaanNya, IA terhenti. JariNya seperti kaku, IA bisa saja menghentikan tulisannya, menekan tombol CLOSE tanpa men-SAVE-nya dalam HARDDISK, dan membuka BLANK DOCUMENT untuk memulai tulisan baru yang lebih sederhana tanpa air mata dan membiarkan Adam-Adam ciptaannya menderita dalam kekakalan tanpa ada yang dapat menolong mereka. Bagaimana mungkin Sang Kasih tidak mengasihi?

IA menggerak-gerakkan jarinya.. menekan tuts untuk menyelesaikan kisahNya sendiri. Cambuk menerjam punggungNya. Ludah memenuhi mukaNya. Paku ditancapkan dalam dagingNya. Ujung tombak menembus lambungNya.

Kata terakhir. Clap-clap-clap-clap-clap. T-A-M-A-T.
IA menggerakkan cursor ke tombol FILE, memilih button SAVE. Dan berkata: “Jadilah terang!”

(disadur bebas oleh F! dari Guntur Yang Lembut Max Lucado)

http://budchrist.blogspot.com/

KETAATAN DAN KEKUDUSAN

April 6th, 2008 by gabriel-choir

baca 2 samuel 6:1-7 untuk informasi lengkap

…maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir. Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.

Ada yg pernah baca ttg cerita seseorang bernama Uza, yg mengulurkan tangannya buat menangkap tabut Allah yg lagi dipindahin agar gak jatoh—eh, Tuhan malah bunuh dia?!
HAH?! Kenapa hal itu bisa terjadi? Beneran deh, Uza kan cuma berusaha menyelamatkan tabutnya! Kok Tuhan malah membunuh dia?

Tenang guys… ini dimulai karena Daud yg salah.
..
Coba baca ini deh:

1 tawarikh 13:1-3

13:1. Daud berunding dengan pemimpin-pemimpin pasukan seribu dan pasukan seratus dan dengan semua pemuka.
13:2 Berkatalah Daud kepada seluruh jemaah Israel: “Jika kamu anggap baik dan jika diperkenankan TUHAN, Allah kita, baiklah kita menyuruh orang kepada saudara-saudara kita yang masih tinggal di daerah-daerah orang Israel, dan di samping itu kepada para imam dan orang-orang Lewi yang ada di kota-kota yang dikelilingi tanah penggembalaan mereka, supaya mereka berkumpul kepada kita.
13:3 Dan baiklah kita memindahkan tabut Allah kita ke tempat kita, sebab pada zaman Saul kita tidak mengindahkannya.”

Well, ga ada perlunya minta pendapat sama mereka karena Tuhan udah bilang di Bilangan 4:5-6 ttg tata cara mindahin tabut.. tabut harus ditutupi dgn selembar tabir penudung, untuk melindungi kekudusan Allah dari segala jenis gangguan, terus dibawa dengan menggunakan kayu pengusung di atas bahu kaum Lewi (Bil 7:9)

Allah telah menyatakan kehendakNya dengan jelas, namun Daud mempunyai gagasan yg lebih baik, yaitu yg pernah ia pelajari dari kaum kafir Filistin. Daud akan menaikkan tabut itu di atas sebuah “kereta yg baru” (2 sam 6:3). Namun, Allah tak pernah mengatakan apapun mengenai penggunaan sebuah kereta yg baru. Ini merupakan penemuan manusia yg bertentangan dgn kehendak dan hukum Tuhan.

let see… apa yang bisa kita pelajari

KETAATAN

Jadi, Daud melakukan hal2 itu dengan cara yg salah, yaitu berdasarkan gagasannya sendiri atau gagasan dari orang lain tetapi BUKAN berdasarkan cara Allah. So, bagian ini memperingatkan bahwa memiliki tujuan yang mulia dan maksud yg bener ketika memasuki pelayanan bagi Allah tidaklah cukup; pekerjaan Allah harus juga diwujudkan dengan cara Allah. Bertujuan baik gak secara otomatis menyiratkan penggunaan cara2 yg bener.

Terus, mengapa murka Allah tertumpah atas diri Uza jika Daud yg bersalah?

Tuhan telah dengan jelas mengajarkan bahwa sekalipun kaum Kehat, yaitu keluarga Lewi ditugaskan untuk mengangkut tabut itu, “janganlah mereka kena kepada barang2 kudus itu, nanti mereka mati” (Bil 4:15)
Kalaupun Uza bukan seorang Kehat ato Lewi, ia tetap harus tahu apa yg diajarkan Bilangan 4&7. Allah tidak hanya menepati janjiNya, melainkan juga menggenapi ancaman-ancamanNya!!

KEKUDUSAN

Seperti Daud, motivasi Uza murni adanya; namun dia mengabaikan Firman yang tertulis, sama kayak Daud. Jadi, seorang berdosa menyeret orang lain. Meminta nasihat dari para ahli tidak bisa mengganti ketaatan kepada Allah bila telah diucapkan-Nya. Niat yang baik, dengan pikiran yg belum dikuduskan, bertentangan dengan Kerajaan Allah. Khususnya dalam hal menyembah Allah dan konsep kekudusan-Nya.

Karena Allah kudus, Ia bebas dari segala ketidak sempurnaan moral.

Menyelipkan keberadaan yang najis ke dalam sesuatu yg kudus berarti mengacaukan keteraturan Allah. Kenajisan bukan hanya bertentangan dengan kekudusan Allah; kenajisan membaurkan yg sekuler dan suci.

Ketaatan lebih dianjurkan untuk mempelajari bahwa Allah dan Firman-Nya tetap benar tatkala kita bertindak bodoh